Akhir-akhir ini, muncul tayangan iklan seputar Sekolah Gratis di beberapa stasiun televisi di tanah air. Kebetulan sajakah kemunculannya pada saat-saat Pemilu 2009 ini? Entahlah.. yang jelas kemunculan iklan yang disponsori Depdiknas tersebut, cukup membuat angin segar bagi kebanyakan orang tua, menjelang bergantinya tahun pelajaran baru yang tinggal beberapa pekan/bulan ini. Semoga janji-janji tersebut tidak sekadar sebagai "Janji Joni" atau "Daun Di Atas Bantal". Atau ikut-ikutan latah dengan kebanyakan calon politisi maupun presiden di negeri ini. Semoga..
Yang jelas, adalah ironi, manakala Depdiknas mulai mendengung-dengungkan kebijakan Sekolah Gratis, pada hal selama ini di bawah Derektorat Pendidikan Luar Sekolah dan Olah Raga, terdapat Bagian Kesetaraan yang membawahi salah satunya adalah Sekolah Rumah (Home Schooling). Ada aturannya yang jelas dan gamblang. Ada kurikulumnya. Ada pembinanya. Etc. Pokoknya lengkap dan komplit plit. Tapi kenapa sosialisasinya sangat jarang terdengar? Di Jogja saja, yang terkenal dengan idiomnya sebagai Kota Pendidikan, Sekolah Rumah baru dipraktekkan oleh Kak Wes terhadap puteranya. Jangan tanyakan apakah ada di Jakarta. Jelas ada. Mulai dari HS-nya Kak Seto Mulyadi, Hughes, Neno Warisman, Dik Doank, dll. Tapi gaungnya ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Pada hal Jakarta berstatus sebagai Daerah Khusus Ibukota Negara. Idem dito dengan Jogja sebagai Ibukota Propinsi berlabel Daerah Istimewa. Maka, dapat dimaklumi, bilamana di banyak daerah di Jawa maupun Luar Jawa. Home Schooling atau Sekolah Rumah, masih dianggap sebagai sekadar wacana seminar an-sich. Pada hal itu tadi, sudah ada aturan maupun kelengkapan administrasinya. Mengapa demikian?
Menurut investigasi penulis, ternyata masalah utama yang mengganjal di sini, adalah "perang bisnis" di bidang pendidikan. Bayangkan saja kalau Home Shcooling mendapat tempat di hati masyarakat, tentu membawa dampak negatif terhadap tutupnya berbagai lembaga pendidikan non-formal dan tidak sedikit mengimbas kepada keberlangsungan lembaga pendidikan formal yang dikelola oleh pihak swasta. Saya tidak yakin, apakah mereka mampu mempertahankan keberlangsungan pengelolaannya. Contohnya yang terjadi di Jogja. Banyak PTS pada tahun ini juga tahun-tahun sebelumnya, mulai berguguran satu demi satu. Kalau pun masih ada, dan mampu bertahan, itupun masih ketar-ketir, sampai kapan mereka bisa mempertahankan eksistensinya. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Banyak orang tua di Jogja dan di daerah, yang tidak tahu informasi mengenai Home Shooling (Sekolah Rumah), pada hal buku-buku yang memuat lengkap tentangnya dapat dimiliki secara gratis. Penulis pada saat berkesempatan berkunjung ke kantor Depdiknas di Jl.Sudirman yang gedungnya bersebelahan dengan Senayan, berhasil memperoleh 1 ransel penuh buku-buku yang membahas seputar Home Schooling (Sekolah Rumah). Sementara pada saat berkunjung ke Kantor Diknas Propinsi DIY yang berada di selatan Stadion Mandala Krida, informasi yang di dapat adalah stock sedang habis. Benarkah? Entahlah.. karena faktanya banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaannya, tetapi stock buku yang memuat informasi keberadaannya sudah habis. Mungkinkah itu? Anda semua bisa menjawabnya sendiri dengan membuktikan apa yang sudah penulis alami. Silahkan buktikan sendiri..
Kembali ke tema, Pendidikan: Haruskah Mahal? Penulis jawab, TIDAK!!! Mengapa? Karena kalau kita kreatif dengan segala potensi yang ada di sekitar kita ini, insya'Allah, banyak kemudahan bagi para orang tua untuk dapat menyekolahkan putera-puterinya secara wajar dan normal. Kecuali, bila di benak pikiran orang tua sudah tertanam mind-set yang terfokus pada gelar dan ijasah maupun mendapatkan pekerjaan sesuai dengan gelar dan ijasah tersebut. Jelas mustahil, karena Jer Basuki Mawa Bea. Maka, saran penulis, bebaskan diri Anda dari mind-set yang ijasah/gelar minded. Mulailah beralih kepada semangat kreatif menghadapi kesulitan. Bebaskan anak Anda membangun kemandirian sejak dini meraih cita-cita. Jangan halangi mereka dengan ketakutan Anda selaku orang tua tentang masa depan mereka. Toh biasanya itu terjadi dan dapat dimaklumi, dipengaruhi oleh psikologis pengalaman "kegagalan" Anda sendiri sebagai pribadi di bidang ini. Benar tidak?! Sehingga tanpa sadar, Anda alihkan pengalaman tersebut kepada anak Anda agar jangan sampai mereka ikuti. Maksud Anda sebagai orang tua memang bagus, dapat dimengerti, namun bagi aspek kejiwaan sang anak, hal tersebut justru menjadi pengganggu utama semangat mereka untuk dapat maju. Lebih mengerikan lagi, manakala mereka menjadi takut melangkah menuju semangat perubahan, yang sering didengung-dengungan oleh banyak parpol akhir-akhir ini. Maklum saja, sedang musim kampanye politik.
Langkah selanjutnya, cari dan telusuri informasi solah berbagai aspek kemudahan ini, sejak di tingkat RT/RW, Dukuh, Desa, Kecamatan, Kabupaten, dst. Jangan malu bertanya, bahkan malu bila mana Anda meminta surat pengantar "tidak mampu" karena berbagai sebab. Penulis tidak menyarankan Anda untuk meminta surat pengantar "miskin". Karena sekarang, banyak yang tidak malu-malu lagi mengaku miskin, meskipun sebenarnya mereka mampu. Beda antara "tidak mampu" dan "miskin". Silahkan Anda menginterpretasikan sendiri.. karena penulis tidak ingin terlibat dalam perdebatan diskusi yang tiada akhir mengenai ini.
Selanjutnya.. mulai melangkah demi keberlangsungan bekal pendidikan bagi putera-puteri kita tercinta, Anda dan penulis juga tentunya. Berikhtiarlah terus seperti orang yang ingin menggali sumur. Bahwa dengan keyakinan akan adanya sumber mata air, saat menemui batu cadaspun, mampu untuk digali dan terus digali, meski mencapai kedalaman yang bermeter-meter. Jangan bangga menjadi orang yang sekadar menggali kubur, karena mereka cukup berpuas diri saat mencapai kedalaman tertentu, paling tidak 3 meter untuk tujuannya, yaitu mengubur. Anda memilih yang mana? Anda bebas memilih untuk itu..
Wallaahu'alam bis shawab..
Sleman, 9 April 2009